image1

HELLO I'M ADAM AZKIYA|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|ENJOY MY RANDOM FEED! :)

Gunakan Tanganmu (Buku: Steal Like An Artist)


"Kita tidak tahu sumber ide sendiri. Yang kita tahu, asalnya bukan dari laptop kita." – John Cleese

      Menjauhlah dari Monitor

      Kartunis favoritku, Lynda Barry, pernah berkata, “Di zaman digital ini, jangan pernah lupa untuk menggunakan jarimu!” tangamu adalah perangkat yang alami. Gunakanlah.


      Meskipun aku menyayangi komputerku, kurasa komputer merampas perasaan bahwa kita benar-benar menghasilkan sesuatu. Kita hanya mengetik dan mengkilik mouse. Inilah sebabnya apa yang disebut ide dan semua artwork album band radiohead, mengatakan komputer mengucilkan sesbab bentqa itu memasang sekat kaca antara kamu dan apapun yang terjadi, “Apapun yang kamu kerjakan baru benar-benar tersentuh setelah kamu cetak.” Ujar Donwood.

      Perhatikan saja orang yang menghadapi komputer, mereka begitu statis, tak bergera. Kamu tidak perlu tinjauan sains untuk tahu bahwa duduk di depan komputer seharian mengancam jiwamu dan mematikan karyamu kita mesti bergerak, menghasilkan sesuatu dengan tubuh kita, bukan hanya dengan otak.

      Karya yang bagus tidak berasal dari otak saja, perhatikan musisi hebat sewaktu tampil. Perhatikan pemimpin besar berpidato, kamu akan mengerti maksudku.

      Temukan cara melibatkan tubuh dalam berkarya. Saraf kita bukan jalur satu arah. Tubuh kita bisa berkomunikasi dengan otak dan sebaliknya. Pernah dengar, “Kerja seperti bernapas?” itulah asyiknya berproses kreatif kalau kita bekerja seperti bernapas sewaktu menyetrum gitar, mengubah susunan post-it di meja konferensi, atau meremas tanah liat, cara ini akan memaksa otak kita berpikir.

      Sewaktu aku ikut worksop menulis kreatif di kampus, semua karya kami harus berspasi ganda dan memakai huruf Times New Roman. Karyaku jadi kacau. Menulis tak lagi mengasyikan bagiku. Menurut penyair Kay Ryan, “Sebelum ada jurusan penulisan kreatif, workshop (bengkel) adalah lokasi, sering kali di lantai dasar, tempatmu menjahit, memalu, mengebor atau merancang sesuatu.” Penulis Biran Kiteley mengaku berusaha agar bengkelnya sesuai makna asli kata workshop: “Ruangan yang terang, segar, penuh perlalatan, dan bahan mentah, sedangkan kerjanya menggunakan tangan.”


“Cukup lama kupandangi layar komputer persegi panjang yang datar berkilau. Mari lebih sering berkegiatan di dunia nyata... menanam pohon, jalan-jalan dengan anjing, membaca buku, menonton opera.” – Edward Tufte

   Setelah memakai peralatan manual lagi dalam proses, barulah berkreasi jadi menyenangkan lagi dan karyaku mulai berkembang. Buku pertamaku, Newspapaer Blackoput, Kuusahakan diproses semanual mungkin, setiap puisi di buku itu dibuat dari artikel koran dan spidol permaen, Proses ini memanfaatkan indra0indraku: Rasa koran cetak di tangan, kata-kata yang menjadi samar di bawah tulisanku, decit perlan ujung spidol , bau tinta spidol-rasanya ada sihir di sana, Sewaktu menulis puisi, aku tak merasa bekerja, Rasanya seperti bermain.

     Komputer sangat bagus untuk mengedit ide-idemu, juga untuk menpersiapkannya sebelum dipublikasikan, tetepi tidak cocok untuk memancing gagasan. Terlalu besar kemungkinan memencet tombol delete. Komputer memunculkan sisi prefeksionis yang rewel dalam diri kita-ide yang bleum ada pun kita edit. Kartunis Tom Gauld mengaku menjauhi komputer sampai selesai merenungkan hampir seluruh kartun stripnya, sebab begitu komputer dibawa-bawa “Segalanya mustahil bisa selesai, sedangkan di buku sketsaku, kemungkinannya sangat luas.”

      Ketika tiba waktunya merangkai Newspapaer Blackout, kupindai semua bagian ke komputer dan kucetak di lembaran kertas lalu kusebar ke seluruh penjuru kantor, kususun ulang berupa beberapa tumpukan, kemudian satu gunduk, sesuai urutan yang kualin di komputer.

      Begitulah proses pembuatan bukunya mula-mulai dengan tangan, lalu dengan komputer, tangan, komputer, Berseling antara manual dan digital.

      Seperti itulan cara kerjaku, selalu. Ada dua meja di kantorku, yang satu “manual dan satunya “Digital” Meja manual hanya berisi spidol, pulpen, pensil, kertas, kartu indeks dan koran. Tidak boleh ada benda elektronik disana. Disitulah hampir semua karyaku lahir. Seluruh meja ditempati jejak fisik, guntingan dan sisa-sisa proses kreatifku. (Tidak seperti harddrive, kertas tidak mengalami crash.) Di meja ada laprop, monitor, scanner, dan drawing tablet. Disinilah kuedit dan kupublikasikan karya.

      Cobalah: Jika ruanganmu cukup, tentukan dua pojok kerja: Manual dan digital, untuk pojok manual, jauhkan semua benta elektronik. Ambil uang, pergilah ke bagian alatu tulis dan alat kantor di toko terdekat. Beli kertas pulpen dan post-it. Sewaktu kamu kembali ke pojok manual, nikmatilah saaat saat berkreasi. Manulislah di kertas, gunting-gunting, lalu rekatkan kembali . Bekerjalah sambil berdiri. Tempelkan benda-benda di dinding dan lihat polanya. Sebar barang di ruanganmu lalu pilih-pilah.

      Begtiu mendapat ide, kamu bisa pindah ke Pojok Digital, gunakan komputer untuk melaksanan dan menyebarluaskan gagasan. Ketika pikiran buntuk. Kembalilah ke pojok manual lalu bermain.





Sumber Buku:
Steal Like An Artist

Penulis:
Austin Kleon



Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar

Makasih banyak yang udah mau komen (≧◡≦)